IHSG Ditutup di 7,585 poin, Nilai Tukar Dollar Rp.16.925,-

Lintas24jam.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) selama sepekan terakhir menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Kedua indikator utama perekonomian Indonesia tersebut mengalami pelemahan seiring meningkatnya ketidakpastian global, penguatan dollar AS, serta sentimen geopolitik internasional.

Pada akhir perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, dilansir dari idx.co.id, IHSG ditutup di kisaran 7.585 poin, turun sekitar 1,62% dibandingkan hari sebelumnya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga melemah dan berada di sekitar Rp16.906 hingga Rp16.925 per dolar AS pada akhir pekan.

Kondisi ini menandai bahwa sepanjang pekan terakhir pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal dan domestik.

Pergerakan IHSG Selama Sepekan

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia, IHSG mengalami fluktuasi cukup tajam selama sepekan terakhir.

Berikut gambaran pergerakan IHSG pada pekan ini:

Senin (2 Maret 2026): sekitar 8.016 poin

Selasa (3 Maret 2026): sekitar 7.939 poin

Rabu (4 Maret 2026): sekitar 7.577 poin

Kamis (5 Maret 2026): rebound ke 7.710 poin

Jumat (6 Maret 2026): turun kembali ke sekitar 7.585 poin

Dari data tersebut terlihat bahwa IHSG sempat mengalami tekanan cukup dalam pada pertengahan pekan sebelum mencoba rebound pada Kamis.

Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama karena pada Jumat indeks kembali terkoreksi.

Secara keseluruhan, IHSG tercatat mengalami penurunan cukup signifikan dalam sepekan terakhir dan bahkan disebut sebagai salah satu periode terlemah sejak awal tahun.

Rupiah Terdepresiasi Selama Pekan Ini

Tidak hanya pasar saham, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan selama pekan ini.

Pada awal pekan, rupiah berada di kisaran Rp16.830 per dollar AS, kemudian secara bertahap melemah hingga menyentuh sekitar Rp16.906–Rp16.925 per dollar AS pada akhir pekan.

Secara kumulatif, rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 0,8% selama sepekan terakhir, meskipun kinerjanya masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa mata uang Asia lainnya.

Pelemahan rupiah ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih cukup kuat di tengah penguatan dollar AS.

Konflik Timur Tengah Menekan Pasar Keuangan

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan IHSG dan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah membuat investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman seperti dollar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Akibatnya, aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham domestik, tekanan jual meningkat sehingga IHSG ikut melemah.

Di sisi lain, meningkatnya permintaan terhadap dolar AS menyebabkan mata uang tersebut menguat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

Sentimen Rating dan Kondisi Ekonomi

Selain faktor geopolitik, sentimen dari lembaga pemeringkat internasional juga turut mempengaruhi pasar keuangan Indonesia.

Beberapa lembaga pemeringkat disebut menurunkan outlook terhadap Indonesia akibat kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan kebijakan ekonomi ke depan.

Kondisi ini membuat sebagian investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.

Kekhawatiran tersebut juga mendorong terjadinya aksi jual oleh investor asing di pasar saham Indonesia.

Penguatan Dollar AS

Faktor lain yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah penguatan dollar AS di pasar global.

Dollar AS cenderung menguat ketika ketidakpastian ekonomi global meningkat karena dianggap sebagai aset safe haven.

Ketika dollar menguat, mata uang negara berkembang biasanya akan mengalami tekanan.

Hal ini terlihat dari pergerakan rupiah yang terus melemah selama beberapa hari terakhir hingga mendekati level Rp17.000 per dollar AS.

Dampak Terhadap Pasar Saham

Pelemahan rupiah juga memiliki dampak langsung terhadap pasar saham Indonesia.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor bagi perusahaan meningkat dan dapat menekan kinerja keuangan emiten.

Selain itu, investor asing yang memegang saham di Indonesia juga menghadapi risiko nilai tukar sehingga sebagian memilih menarik dana dari pasar.

Akibatnya, tekanan jual meningkat dan IHSG cenderung bergerak melemah.

Prospek IHSG Pekan Depan

Untuk pekan depan, analis memperkirakan pergerakan IHSG masih akan berada dalam kondisi volatile atau bergerak fluktuatif.

Beberapa faktor yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG antara lain:

  • Perkembangan konflik geopolitik global
  • Pergerakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat
  • Aliran dana investor asing di pasar saham Indonesia
  • Pergerakan nilai tukar rupiah

Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 7.500 hingga 7.800 poin pada pekan depan.

Jika sentimen global mulai membaik dan aliran dana asing kembali masuk, IHSG berpotensi rebound menuju level psikologis 7.800 hingga 8.000 poin.

Namun jika tekanan global masih berlanjut, indeks saham Indonesia masih berpotensi kembali melemah.

Prediksi Rupiah Pekan Depan

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan masih berada dalam tekanan.

Beberapa analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran:

Rp16.850 – Rp17.030 per dollar AS

Jika penguatan dollar AS masih berlanjut dan ketegangan geopolitik belum mereda, rupiah berpotensi mendekati level Rp17.000 per dollar AS.

Namun jika Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing dan sentimen global membaik, rupiah berpotensi kembali menguat ke bawah Rp16.800.

Investor Diminta Tetap Waspada

Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, para pelaku pasar dan investor diimbau untuk tetap berhati-hati.

Fluktuasi IHSG dan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pasar keuangan sangat sensitif terhadap perkembangan global.

Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan ekonomi internasional, kebijakan bank sentral, serta dinamika geopolitik yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar.

Meski demikian, dalam jangka panjang fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai cukup kuat sehingga pasar saham dan nilai tukar rupiah berpotensi kembali stabil apabila kondisi global membaik.

Hda/Dad

Sumber : IDX Composite https://share.google/6RD4p67y4DBDvy8YS

Iklan