Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US$120

Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US$120 per Barel Pekan Ini, Dampak Konflik AS-Israel vs Iran Memanas

Lintas24jam.com – Jakarta – Harga minyak dunia diperkirakan akan terus melonjak dan berpotensi menembus level US$120 per barel pada pekan ini. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi global. Terlebih, ancaman Iran untuk menutup total Selat Hormuz semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak dunia.

Eskalasi Konflik Picu Lonjakan Harga Minyak

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah global sudah menunjukkan tren kenaikan signifikan. Dari http://reuters.com Minyak Brent akhir pekan lalu bahkan sempat menyentuh kisaran US$116 per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Analis pasar energi menilai, jika konflik terus berlanjut dan jalur distribusi minyak terganggu, maka harga minyak berpotensi menembus US$120 per barel dalam waktu dekat.

Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, serta ancaman balasan dari Iran terhadap kepentingan AS dan sekutunya.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci

Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya.

Iran sebelumnya telah mengancam akan menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel. Jika ancaman ini direalisasikan secara penuh, maka dampaknya akan sangat besar terhadap pasokan minyak global.

Gangguan di Selat Hormuz bahkan disebut sebagai salah satu potensi krisis energi terbesar dalam sejarah modern, mengingat perannya dalam hilir mudik 20% pasokan minyak dan gas dunia yang sangat strategis dalam perdagangan minyak dunia.

Risiko Krisis Energi Global Meningkat

Sejumlah lembaga keuangan global memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak lebih tinggi lagi, bahkan melampaui rekor sebelumnya.

Goldman Sachs menyoroti bahwa risiko kenaikan harga masih terbuka lebar, terutama jika gangguan pasokan terus berlanjut dan produksi minyak di kawasan Teluk tidak segera pulih.

Selain itu, penutupan jalur distribusi juga telah mengurangi pasokan minyak secara signifikan dari pasar global, memperketat ketersediaan energi dan mendorong harga semakin tinggi.

Dampak ke Ekonomi Global dan Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada negara produsen, tetapi juga negara importir seperti Indonesia. Kenaikan harga energi berpotensi memicu:

  • Inflasi global
  • Kenaikan harga BBM
  • Biaya logistik meningkat
  • Tekanan terhadap nilai tukar rupiah

Di dalam negeri, pemerintah sebelumnya menyatakan stok energi masih aman dalam jangka pendek. Namun, jika harga minyak terus meroket, tekanan terhadap APBN dan subsidi energi akan semakin besar.

Potensi Kenaikan Harga Minyak

Dengan situasi geopolitik yang masih memanas dan ancaman penutupan Selat Hormuz, harga minyak dunia berada dalam fase yang sangat volatil. Jika konflik tidak segera mereda, maka skenario harga minyak menembus US$120 per barel bukan lagi sekadar prediksi, melainkan potensi nyata dalam waktu dekat.

Hda/Dad

Harga Minyak Mentah Tinggi Dalam 4 Tahun https://share.google/7AkvvjuqltKPoUnNh

Iklan