Rupiah Berpotensi Rp.20.400,-

Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Berpotensi Tembus Rp20.400 per Dolar AS

Lintas24jam.com – Jakarta, 23 Maret 2026 – Nilai tukar rupiah bisa mencapai 20.400 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran, dinilai berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budhiawan, menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama yang berasal dari faktor geopolitik.

“Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” ujar Anthony dalam keterangannya, Senin (23/3/2026).

Terancam Melemah Hingga 20 Persen

Saat ini, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Namun, berdasarkan data historis dan analisis tren global, Anthony memperkirakan potensi pelemahan rupiah bisa mencapai 15 hingga 20 persen dalam beberapa bulan ke depan.

Namun jika skenario tersebut terjadi, maka nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp20.400 per dolar AS dalam rentang waktu tiga hingga enam bulan mendatang.

Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Lonjakan harga energi global akibat terganggunya pasokan minyak dan gas dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada defisit transaksi berjalan.

Dampak Konflik Iran terhadap Ekonomi Global

Konflik yang melibatkan Iran berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu titik vital bagi distribusi minyak dunia.

Namun Gangguan terhadap pasokan energi global akan mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi dan distribusi di berbagai sektor industri.

Kondisi ini dapat memicu inflasi global, memperlambat pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional.

Indonesia sebagai negara berkembang tidak akan luput dari dampak tersebut. Ketergantungan terhadap impor bahan bakar dan fluktuasi arus modal asing membuat rupiah menjadi salah satu mata uang yang rentan terhadap tekanan eksternal.

Tekanan terhadap Rupiah Semakin Kompleks

Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebijakan moneter global, khususnya dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, maka aliran modal asing cenderung keluar dari negara berkembang menuju aset yang lebih aman di AS.

Hal ini akan memperburuk tekanan terhadap rupiah karena berkurangnya pasokan dolar di dalam negeri.

Di sisi lain, peningkatan permintaan dolar untuk kebutuhan impor juga mempercepat pelemahan nilai tukar. Kombinasi antara faktor eksternal dan domestik ini membuat posisi rupiah semakin tertekan.

Potensi Dampak ke Sektor Domestik

Pelemahan rupiah hingga di atas Rp20.000 per dolar AS tentu akan membawa dampak luas terhadap perekonomian nasional. Beberapa sektor yang paling terdampak antara lain:

1. Kenaikan Harga Barang Impor

Barang impor, termasuk bahan baku industri, akan menjadi lebih mahal. Hal ini dapat memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

2. Tekanan Inflasi

Kenaikan harga energi dan bahan baku akan meningkatkan inflasi, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

3. Beban Utang Luar Negeri

Perusahaan maupun pemerintah yang memiliki utang dalam dolar AS akan menghadapi beban pembayaran yang lebih besar.

4. Ketidakpastian Investasi

Fluktuasi nilai tukar dapat membuat investor menahan diri untuk menanamkan modal di Indonesia.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi risiko nyata di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Proyeksi kurs yang berpotensi mencapai Rp20.400 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tantangan besar.

Pemerintah dan otoritas keuangan perlu bergerak cepat dan tepat dalam merespons kondisi ini agar dampak negatif terhadap perekonomian dapat diminimalisir.

Sumber : https://share.google/KhlQMoUwrKl4MmIwM

Iklan