Rupiah Tertekan Geopolitik Timur Tengah
Lintas24jam.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan signifikan. Pada perdagangan hari ini, kurs dolar tercatat berada di level Rp17.101. Hal ini menandakan tekanan yang masih kuat terhadap mata uang Garuda di tengah ketidakpastian global.
Iran Pantang Menyerah
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait sikap Iran yang terus meningkatkan tensi konflik. Iran dilaporkan berulang kali menolak menurunkan eskalasi serangan, bahkan memperketat blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi global.
Faktor Geopolitik
Blokade di Selat Hormuz memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan dunia. Jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, sehingga gangguan di kawasan tersebut langsung memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Kondisi ini membuat investor cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS (safe haven), sehingga memperkuat kurs dollar dan menekan nilai tukar rupiah. Selain itu, lonjakan harga minyak juga berdampak langsung pada negara importir seperti Indonesia, yang harus menghadapi risiko inflasi impor dan tekanan neraca perdagangan.
Intervensi Bank Indonesia
Bank Indonesia sendiri diperkirakan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar kurs dollar. Rupiah fluktuatif di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi akibat konflik berkepanjangan.
Kesimpulan
Kenaikan dolar ke level Rp17.101 menjadi sinyal kuat bahwa faktor global. Khususnya konflik Timur Tengah, memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Pelaku pasar kini menanti perkembangan geopolitik sebagai penentu arah rupiah ke depan.
Hda/Dad



