Rupiah Masih Tertekan Meski Sentimen Timur Tengah Membaik
JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (10/4/2026), dengan menembus level Rp17.270 per dolar AS. Penguatan greenback terjadi meski sentimen geopolitik global mulai mereda seiring munculnya rencana gencatan senjata antara Iran dengan AS dan Israel.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen positif dari Timur Tengah belum cukup kuat untuk mengangkat nilai tukar rupiah secara signifikan.
Dolar AS Tetap Perkasa Meski Ketegangan Timur Tengah Mereda
Rencana gencatan senjata di kawasan Timur Tengah sempat memberi harapan pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik global. Namun investor masih berhati-hati dan tetap memburu aset safe haven seperti dolar AS karena keberlanjutan kesepakatan tersebut dinilai belum sepenuhnya pasti.
Akibatnya, mata uang negara berkembang termasuk rupiah masih berada dalam tekanan meski risiko geopolitik global sedikit menurun.
Harga Minyak Dunia Mulai Turun Signifikan
Seiring meredanya tensi geopolitik, harga minyak mentah dunia juga mulai terkoreksi cukup dalam. Sejumlah lembaga keuangan global bahkan memangkas proyeksi harga minyak setelah premi risiko geopolitik menurun. Goldman Sachs, misalnya, menurunkan proyeksi harga Brent dan WTI untuk kuartal II 2026 setelah adanya perkembangan menuju gencatan senjata.
Penurunan harga minyak biasanya menjadi sentimen positif bagi negara importir energi seperti Indonesia karena dapat membantu menekan tekanan terhadap neraca perdagangan dan subsidi energi.
Mengapa Rupiah Belum Menguat?
Meski harga minyak turun dan risiko geopolitik sedikit mereda, rupiah tetap belum mampu menguat karena beberapa faktor utama:
- Dolar AS masih menjadi aset favorit investor global
- Pasar meragukan keberlanjutan gencatan senjata
- Arus modal asing masih cenderung berhati-hati terhadap emerging markets
- Fundamental eksternal masih mendukung penguatan dolar
Prospek Rupiah ke Depan
Pelaku pasar kini menanti perkembangan lebih lanjut terkait implementasi nyata gencatan senjata di Timur Tengah. Jika stabilitas kawasan benar-benar pulih dan harga energi terus turun, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda dalam beberapa pekan ke depan.
Namun selama ketidakpastian global masih tinggi, kurs rupiah diperkirakan tetap bergerak volatil di atas level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Ringkasan Pergerakan Pasar
- Kurs Dolar AS/Rupiah: Rp17.270
- Tren: Dolar menguat, rupiah melemah
- Sentimen utama: Ketidakpastian gencatan senjata Timur Tengah, penguatan dolar global
- Harga minyak: Turun signifikan setelah tensi geopolitik mereda
Hda/Dad
Harga Emas Hari Ini Jumat 10 April 2026 Turun Rp.2.865.000,-



