Dolar AS Tembus Rp17.305! Rupiah Tertekan, Sampai Kapan BI Kuat Intervensi Pasar?
Lintas24jam.com – JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan akhir pekan ini setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level Rp17.305. Penguatan greenback yang terus berlanjut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal global.
Pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah sentimen negatif pasar internasional yang belum mereda, mulai dari ketegangan geopolitik Timur Tengah hingga lonjakan harga energi dunia.
Dolar AS Menguat, Tekanan pada Rupiah Kian Besar
Penguatan dolar AS terhadap rupiah menandai masih derasnya arus dana keluar dari pasar negara berkembang. Investor global cenderung memburu aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Dengan kurs dolar kini berada di kisaran Rp17.305, pelaku pasar mulai mempertanyakan seberapa lama Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valas.
Gencatan Senjata Timur Tengah Dinilai Gagal Redakan Pasar
Salah satu sentimen utama yang kembali menekan pasar adalah memudarnya optimisme terhadap gencatan senjata di kawasan Timur Tengah.
Meski sebelumnya muncul kabar mengenai upaya meredakan konflik Iran dan Israel, situasi di lapangan justru kembali memanas setelah Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan ke Lebanon dan Pakistan. Kondisi ini membuat pasar menilai tensi geopolitik masih jauh dari kata aman.
Ketidakpastian tersebut mendorong investor global mengalihkan dana ke dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Harga Minyak Tinggi Picu Kekhawatiran Inflasi Global
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh harga minyak dunia yang belum menunjukkan penurunan signifikan.
Harga energi yang bertahan tinggi meningkatkan risiko inflasi global, karena biaya produksi dan transportasi di berbagai negara ikut terdorong naik. Kondisi ini dapat membuat bank sentral dunia mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Jika tekanan inflasi global berlanjut, maka mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi terus berada di bawah tekanan.
Sampai Kapan BI Mampu Bertahan?
Bank Indonesia selama ini aktif melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi untuk menstabilkan rupiah.
Namun jika tekanan eksternal terus berlanjut dan dolar AS semakin perkasa, ruang intervensi BI dinilai akan semakin berat.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari BI, termasuk kemungkinan kebijakan moneter tambahan guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global.
Prospek Rupiah Pekan Depan
Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada:
- Perkembangan konflik Timur Tengah
- Arah harga minyak mentah dunia
- Kebijakan suku bunga bank sentral global
- Intensitas intervensi Bank Indonesia
Jika sentimen negatif global belum mereda, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Hda/Dad



