Harga Minyak Dunia Hari Ini 12 April 2026 Tembus $96/Barel! Pekan Depan Diprediksi Naik Gara-Gara Kegagalan Perundingan AS-Iran
Lintas24jam.com – Harga minyak dunia pada Minggu, 12 April 2026, tercatat masih berada di level tinggi di tengah ketegangan geopolitik global. Dua acuan utama minyak dunia menunjukkan angka sebagai berikut:
Brent Crude: US$94,74 per barel
West Texas Intermediate (WTI): US$96,82 per barel
Harga ini mencerminkan kondisi pasar energi yang masih diliputi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat.
Meski sempat mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir, harga minyak tetap bertahan di level tinggi karena gangguan pasokan global.
Konflik Iran vs AS Jadi Pemicu Utama
Kegagalan perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mendorong ketidakstabilan harga minyak dunia.
Ketegangan meningkat setelah tidak tercapainya kesepakatan gencatan senjata. Kondisi ini memperburuk kekhawatiran pasar terhadap kelangsungan distribusi energi global.
Bahkan, konflik ini juga melibatkan Israel, yang semakin memperkeruh situasi geopolitik di kawasan tersebut.
Menurut laporan terbaru, pasar minyak sangat sensitif terhadap perkembangan konflik ini karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pemasok energi terbesar dunia.
Selat Hormuz Diblokade, Pasokan Minyak Terganggu
Dampak paling signifikan dari konflik ini adalah blokade yang dilakukan Iran terhadap Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% distribusi minyak dunia. Ketika jalur ini terganggu, pasokan global langsung terdampak signifikan.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa:
- Akses kapal dibatasi
- Biaya transit meningkat
- Distribusi minyak melambat
Situasi ini membuat pasar khawatir akan terjadinya krisis pasokan energi global.
Bahkan, dalam beberapa laporan, harga minyak sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan suplai yang lebih besar.
Harga Minyak Berpotensi Naik Pekan Depan
Melihat kondisi saat ini, banyak analis memprediksi harga minyak dunia akan kembali naik dalam sepekan ke depan.
Beberapa faktor pendorong kenaikan tersebut antara lain:
1. Gagalnya Perundingan Perdamaian
Tidak adanya kesepakatan antara Iran dan AS membuat risiko konflik berkepanjangan semakin besar.
2. Blokade Selat Hormuz Makin Ketat
Gangguan distribusi minyak menjadi ancaman nyata bagi pasar global.
3. Lonjakan Permintaan dan Ketidakpastian Pasokan
Pasar energi global saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik.
Bahkan, harga minyak sempat kembali mendekati atau menembus level US$100 per barel dalam beberapa hari terakhir karena kekhawatiran pasokan.
Dampak ke Ekonomi Global: Inflasi Mengintai
Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memicu efek domino terhadap ekonomi global.
Beberapa dampak yang mulai terasa:
- Kenaikan harga BBM di berbagai negara
- Biaya logistik meningkat
- Tekanan inflasi global semakin tinggi
- Pertumbuhan ekonomi melambat
Lembaga ekonomi global bahkan telah memperingatkan bahwa krisis energi akibat konflik ini bisa menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah jika tidak segera mereda.
Pasar Energi Masih Sangat Volatil
Pergerakan harga minyak saat ini sangat fluktuatif. Dalam beberapa hari, harga bisa naik tajam lalu terkoreksi kembali, tergantung perkembangan situasi geopolitik.
Meski sempat turun akibat sentimen sementara, tekanan pasokan membuat harga kembali menguat.
Artinya, pasar energi saat ini belum stabil dan masih sangat bergantung pada:
- Perkembangan konflik Iran vs AS-Israel
- Kebijakan distribusi minyak global
- Stabilitas jalur perdagangan energi
Dunia Bersiap Hadapi Lonjakan Harga
Harga minyak dunia hari ini, 12 April 2026, berada di kisaran US$94–96 per barel, namun berpotensi naik dalam waktu dekat.
Kegagalan perundingan damai, blokade Selat Hormuz, serta tekanan inflasi global menjadi kombinasi kuat yang mendorong kenaikan harga minyak.
Jika situasi tidak segera membaik, dunia berpotensi menghadapi:
- Krisis energi
- Lonjakan inflasi
- Tekanan ekonomi global
Investor dan pemerintah di berbagai negara kini harus bersiap menghadapi skenario terburuk dari konflik yang belum menemukan titik terang ini.
Hda/Dad
Baca Juga :



