Dolar Nyaris Tembus Rp18.000, BI Terus Guyur Pasar Lewat SRBI, Pengamat Khawatir Cadangan Devisa dan Fiskal Indonesia Makin Tertekan
Dolar Menguat, Rupiah Bertahan di Dekat Level Psikologis Rp18.000
Lintas24jam.com – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih belum mereda. Sepanjang sepekan terakhir, pergerakan dolar Amerika Serikat terus berada di kisaran yang sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pada perdagangan Sabtu, 27 Juni 2026, nilai tukar dolar tercatat berada di sekitar Rp17.860, hanya terpaut sekitar Rp140 dari level Rp18.000 yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Meski belum menembus angka tersebut, volatilitas yang terjadi menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Pelaku pasar menilai stabilitas nilai tukar saat ini masih sangat bergantung pada intervensi Bank Indonesia.
BI Dinilai Mati-matian Menjaga Rupiah Melalui SRBI
Sejumlah analis menilai Bank Indonesia terus melakukan intervensi agresif melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing.
Dengan menyediakan likuiditas dolar ke pasar, BI berupaya meredam lonjakan permintaan yang dapat mendorong dolar menguat menembus Rp18.000.
Namun, intervensi tersebut dinilai menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Setiap kali pasokan dolar masuk ke pasar, permintaan dari pelaku usaha maupun investor dinilai tetap tinggi sehingga pasokan tersebut relatif cepat terserap.
Akibatnya, tekanan terhadap rupiah kembali muncul dalam waktu singkat.
Dolar Menguat Volatilitas Capai Rp100-Rp150 Sehari
Analis mengamati pergerakan nilai tukar dolar dalam beberapa hari terakhir sangat fluktuatif.
Dalam satu hari perdagangan, perubahan harga dapat mencapai sekitar Rp100 hingga Rp150.
Volatilitas seperti ini menunjukkan pasar masih berada dalam kondisi sensitif terhadap berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global.
Selain dipengaruhi faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, tekanan juga berasal dari persepsi investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
Selama permintaan dolar tetap tinggi, intervensi diperkirakan hanya mampu meredam gejolak dalam jangka pendek.
Kekhawatiran Terhadap Cadangan Devisa
Pengamat ekonomi mulai mengingatkan bahwa intervensi yang dilakukan secara terus-menerus berpotensi mengurangi cadangan devisa apabila tidak diimbangi dengan masuknya arus modal asing maupun surplus transaksi berjalan.
Cadangan devisa merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar, membayar kewajiban luar negeri, serta meningkatkan kepercayaan investor.
Apabila cadangan devisa mengalami penurunan secara signifikan dalam waktu yang lama, ruang gerak otoritas moneter dalam menjaga stabilitas pasar dapat menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, besarnya dampak terhadap perekonomian bergantung pada besaran cadangan devisa yang tersisa, sumber tekanan terhadap rupiah, serta kebijakan lanjutan yang ditempuh oleh Bank Indonesia dan pemerintah.
Pasar Menilai Risiko Fiskal Indonesia Meningkat
Selain faktor moneter, perhatian pelaku pasar kini juga mulai tertuju pada kondisi fiskal Indonesia.
Beberapa analis menilai pasar mulai mencermati meningkatnya risiko fiskal, terutama terkait kebutuhan pembiayaan pemerintah dan kemampuan menjaga keseimbangan anggaran.
Persepsi risiko tersebut dinilai ikut memengaruhi keputusan investor asing dalam menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.
Ketika investor menilai risiko meningkat, mereka cenderung meminta imbal hasil yang lebih tinggi atau memilih menunda investasi hingga kondisi dinilai lebih pasti.
Perlu dicatat bahwa penilaian mengenai kondisi fiskal merupakan interpretasi pelaku pasar dan dapat berbeda antar analis, sehingga tidak mencerminkan kesimpulan resmi mengenai kesehatan fiskal Indonesia.
Penerbitan Obligasi Jadi Sorotan Investor
Di tengah tekanan pasar, penerbitan surat utang pemerintah juga menjadi perhatian.
Sebagian pengamat menilai terdapat penerbitan obligasi yang menghadapi permintaan investor lebih rendah dibandingkan ekspektasi. Faktor yang disebut antara lain tingkat kupon yang dinilai kurang menarik dibandingkan risiko yang dipersepsikan pasar, serta kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi ke depan.
Namun, rendahnya minat pada suatu penerbitan tidak selalu berarti obligasi pemerintah secara keseluruhan tidak diminati. Permintaan dapat dipengaruhi oleh kondisi likuiditas global, tenor obligasi, tingkat kupon, hingga sentimen pasar pada saat lelang berlangsung.
Faktor Global Masih Memberi Tekanan
Selain faktor domestik, dolar menguat secara global juga menjadi penyebab utama melemahnya berbagai mata uang negara berkembang.
Ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi lebih lama membuat aset berbasis dolar tetap menarik.
Kondisi tersebut mendorong investor global mengalihkan sebagian dana dari emerging markets menuju aset yang dianggap lebih aman.
Akibatnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi dinamika ekonomi internasional.
Prospek Rupiah ke Depan
Dalam jangka pendek, arah rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu:
Kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Efektivitas intervensi Bank Indonesia melalui SRBI dan instrumen lainnya.
Perkembangan cadangan devisa Indonesia.
Arus masuk dan keluar modal asing.
Kondisi fiskal dan penerbitan surat utang pemerintah.
Sentimen investor terhadap pasar negara berkembang.
Jika tekanan global mulai mereda dan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia meningkat, nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, apabila permintaan dolar tetap tinggi dan sentimen negatif berlanjut, volatilitas diperkirakan masih akan terjadi.
Kesimpulan
Pergerakan dolar yang bertahan di kisaran Rp17.860 menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat. Intervensi Bank Indonesia melalui SRBI dinilai membantu meredam gejolak, namun pasar tetap menunjukkan permintaan dolar yang tinggi sehingga volatilitas masih besar.
Di sisi lain, perhatian investor terhadap kondisi fiskal, perkembangan penerbitan obligasi, serta arah kebijakan ekonomi global akan menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan rupiah ke depan. Menjaga stabilitas nilai tukar tidak hanya membutuhkan intervensi moneter, tetapi juga kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Hda/Dad



