Harga Minyak Dunia Akhir Pekan Melonjak

Harga Minyak Dunia WTI Tembus US$99,77 per Barel akibat Konflik Timur Tengah

Lintas24jam.com – JAKARTA, 10 April 2026 – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (10/4/2026), dipicu memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan ke Lebanon serta masih ditutupnya Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.

Berdasarkan perdagangan terbaru, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 5% ke level US$99,77 per barel, sementara minyak mentah acuan global Brent menguat 1,78% ke posisi US$97,82 per barel.

Kenaikan ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia yang semakin besar.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Lonjakan Harga Minyak

Analis menilai eskalasi konflik antara Israel dan kelompok di Lebanon telah meningkatkan risiko ketidakstabilan kawasan, terlebih di saat Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia—masih belum kembali beroperasi normal.

Gangguan pada jalur distribusi energi tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa suplai minyak global akan terganggu lebih lama dari perkiraan.

“Pasar kini memberi premi risiko geopolitik yang sangat besar terhadap harga minyak,” ujar sejumlah analis energi global dalam laporan pasar terbaru.

Harga Minyak Diprediksi Bertahan di Atas US$100 per Barel

Sejumlah pengamat energi internasional memproyeksikan harga minyak dunia berpotensi bertahan di atas US$100 per barel dalam 12 bulan ke depan apabila konflik di Timur Tengah tidak segera mereda.

Prediksi tersebut didasarkan pada kombinasi faktor:

  • Ketegangan geopolitik yang terus meningkat
  • Risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah
  • Permintaan energi global yang tetap tinggi
  • Menipisnya cadangan strategis di beberapa negara besar

Jika proyeksi ini terealisasi, maka dunia berpotensi menghadapi tekanan inflasi energi yang lebih panjang.

Dampak ke Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi perekonomian Indonesia, terutama pada:

  • Kenaikan biaya impor energi
  • Tekanan terhadap subsidi BBM pemerintah
  • Risiko inflasi transportasi dan logistik
  • Tekanan terhadap nilai tukar rupiah

Pemerintah dan pelaku pasar kini mencermati perkembangan situasi Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan untuk melihat arah pergerakan harga energi global berikutnya.

Kesimpulan

Dengan harga WTI yang nyaris menembus level psikologis US$100 per barel, pasar energi global kini berada dalam fase waspada tinggi. Jika konflik terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup, reli harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Hda/Dad