Dolar AS Tembus Rp17.819 pada 4 Mei 2026, Rupiah Tertekan Konflik Timur Tengah dan Sentimen Fiskal
Lintas24jam.com – Jakarta, 4 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan hari ini, Senin (4/5/2026). Rupiah tercatat berada di level Rp17.819 per dolar AS, memperpanjang tren penurunan yang dipicu berbagai faktor global dan domestik.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan berlapis yang tengah dihadapi perekonomian Indonesia, mulai dari ketegangan geopolitik hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional.
Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Global
Salah satu faktor utama pelemahan rupiah adalah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Lonjakan permintaan terhadap dolar membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan. Selain itu, konflik ini juga berdampak pada kenaikan harga energi dunia yang semakin memperburuk tekanan inflasi global.
Inflasi Global Masih Tinggi
Inflasi global yang belum mereda turut menjadi faktor penting. Bank sentral di berbagai negara masih mempertahankan kebijakan moneter ketat, termasuk suku bunga tinggi, yang membuat arus modal keluar dari pasar negara berkembang semakin besar.
Kondisi ini menyebabkan likuiditas global mengetat dan memperkuat posisi dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia.
Sentimen Negatif Fiskal Indonesia
Dari dalam negeri, sentimen negatif terhadap kondisi fiskal Indonesia juga ikut menekan rupiah. Kekhawatiran muncul terkait meningkatnya beban fiskal akibat:
- Intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah
- Pembayaran utang jatuh tempo dalam jumlah besar pada tahun 2026
- Potensi pelebaran defisit anggaran
Investor menilai tekanan terhadap APBN dapat mengurangi ruang fiskal pemerintah, sehingga meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi jangka menengah.
Intervensi Rupiah Belum Maksimal
Upaya stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar dinilai belum mampu menahan pelemahan rupiah secara signifikan. Tekanan eksternal yang kuat membuat langkah tersebut hanya bersifat sementara.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta mengembalikan kepercayaan investor.
Prospek Rupiah ke Depan
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan selama:
- Konflik geopolitik belum mereda
- Inflasi global masih tinggi
- Sentimen fiskal domestik belum membaik
Namun demikian, peluang penguatan tetap terbuka apabila pemerintah mampu menjaga kredibilitas fiskal serta didukung stabilitas global yang lebih kondusif.
Hda/Dad
Baca Juga :



