Misteri Warung Perempatan di Jalan Blora

Lintas Misteri : Kumpulan cerita kisah nyata

Lintas24jam.com – Hari itu adalah hari pertama libur sekolah. Karena liburan cukup panjang, Ayah dan Ibu memutuskan mengajakku berkunjung ke rumah Nenek di Blora, Jawa Tengah.

Selepas salat Zuhur, kami berangkat dari Semarang sekitar pukul 13.00. Perjalanan berlangsung lancar, dan menjelang Magrib kami sudah memasuki wilayah Kabupaten Blora.

“Sebentar lagi sampai rumah Nenek,” kata Ayah.

Menurut Ayah, jaraknya tinggal sekitar 30 menit lagi. Namun karena ingin ke toilet, Ayah memutuskan berhenti di sebuah warung kecil yang berdiri di tepi jalan.

Warung itu tampak sepi. Lampunya redup meski hari belum benar-benar gelap.

Ayah langsung berjalan ke arah belakang warung untuk mencari toilet, sementara aku dan Ibu menunggu di depan sambil memilih makanan ringan.

Aku mengambil sebungkus roti dan sebotol air mineral. Ibu memilih sebungkus kacang dan kopi sachet. Tak lama kemudian Ayah keluar dari samping warung.

Saat hendak membayar, pemilik warung yang dipanggil “Si Mbok” hanya berkata singkat.

“Delapan belas ribu.”

Tak ada senyum. Tak ada basa-basi.

Ibu menyerahkan uang dan menerima kembaliannya.

Sebelum pergi, Ibu bertanya pelan.

“Mbok, saya boleh numpang ke toilet?”

Perempuan tua itu tidak menjawab. Ia hanya menoleh dan menatap Ibu dengan sorot mata yang dingin.

Aku dan Ibu saling berpandangan.

Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman.

Bukan hanya karena ekspresinya yang datar, tetapi juga karena suasana warung itu terasa aneh. Entah mengapa bulu kudukku sempat merinding.

Namun karena Ayah sudah memanggil, kami tidak terlalu memikirkannya. Ibu segera ke toilet, lalu kami kembali masuk ke mobil.

Di perjalanan, Ibu sempat berkata kepada Ayah.

“Pak, Si Mbok tadi aneh nggak sih?”

“Aneh gimana?” tanya Ayah.

“Entahlah…”

Ibu tidak melanjutkan perkataannya.

Hampir pukul 20.00 kami tiba di rumah Nenek.

Aku yang belum pernah datang ke sana hanya bisa menggerutu dalam hati.

Katanya tinggal 30 menit lagi, kok hampir dua jam baru sampai?

Setelah bersalaman dengan Nenek dan Bulik yang merawat beliau, kami mandi dan beristirahat.

Nenek sempat menawarkan makan malam, tetapi kami memilih salat terlebih dahulu karena belum sempat melaksanakan salat Magrib. Rencananya kami akan menjamak salat Magrib dan Isya.

Sayangnya, karena terlalu lelah, kami malah tertidur sebelum sempat melaksanakannya.

Keesokan paginya, suara azan Subuh membangunkanku.

Ibu menggoyang kakiku pelan.

“Ayo bangun, ambil wudu.”

Setelah salat berjamaah bersama Ayah dan Ibu, kami menuju ruang makan.

Berbagai masakan khas buatan Nenek sudah tersaji di atas meja.

Sambil mengambil nasi, Nenek bertanya.

“Berangkat dari Semarang jam berapa?”

“Jam satu siang, Nek,” jawabku.

“Macet?”

“Enggak. Lancar kok.”

“Alhamdulillah.”

Aku lalu bercerita tentang perjalanan semalam.

“Nek, kemarin sebelum sampai sini Ayah sempat berhenti di warung perempatan jalan buat ke toilet.”

Mendadak suasana berubah.

Nenek yang semula tersenyum langsung terdiam.

Wajahnya tampak pucat.

Aku menatap heran.

“Nenek kenapa?”

Belum sempat Nenek menjawab, Bulik lebih dulu berbicara.

“Warung yang di perempatan itu?”

“Iya,” jawabku.

Bulik dan Nenek saling berpandangan.

Kemudian Bulik berkata dengan suara pelan.

“Warung itu sudah tidak ada.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Maksudnya?”

“Warung itu terbakar habis sekitar sebulan lalu,” lanjut Bulik. “Pemiliknya, Si Mbok, ikut meninggal di dalam kebakaran.”

Jantungku seakan berhenti sesaat.

Aku menatap Ayah dan Ibu.

“Yang benar, Bulik?”

Nenek akhirnya ikut bicara.

“Si Mbok itu teman Nenek sejak kecil. Kami satu sekolah dulu.”

Suara Nenek terdengar lirih.

“Warungnya dirampok. Setelah itu dibakar. Semua penghuni rumah meninggal malam itu.”

Aku merasakan tengkukku mulai dingin.

“Kalau begitu… semalam kami bertemu siapa?”

Tak ada yang menjawab.

Dengan tangan gemetar, Ibu mengambil kantong plastik berisi makanan yang kami beli dari warung tersebut.

Kami semua terdiam.

Roti yang semalam terlihat normal kini berubah gosong seperti arang.

Bungkus kacang tampak hangus di beberapa bagian.

Air mineral yang tadinya jernih berubah menjadi keruh kehitaman.

Yang paling membuat kami merinding adalah uang kembalian dari warung itu.

Lembar-lembar uang tersebut sudah tidak ada.

Yang tersisa hanyalah daun-daun kering yang rapuh.

Aku menoleh ke arah Ayah.

Biasanya Ayah selalu punya penjelasan logis untuk segala hal.

Namun kali ini, Ayah hanya terdiam.

Tak seorang pun berani berbicara.

Saat itulah kami mulai percaya bahwa sosok yang kami temui di warung remang-remang semalam bukanlah manusia.

Melainkan penghuni lain yang masih menunggu di perempatan jalan menuju Blora.

Hda/Dad