Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Masih Tertekan

Nilai Tukar Dolar AS Kembali Dekati Rp18.840, Rupiah Masih Tertekan Meski BI Berulang Kali Intervensi

Lintas24jam.com – Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026 – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Pelemahan rupiah terjadi meskipun Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi. Data pasar menunjukkan kurs USD/IDR masih berada di kisaran tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, mencerminkan kuatnya tekanan terhadap mata uang domestik.

Fundamental Fiskal Indonesia Masih Menjadi Sorotan

Pelaku pasar masih mencermati kondisi fundamental fiskal Indonesia, termasuk prospek defisit anggaran, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta arus modal asing yang masih fluktuatif. Faktor-faktor tersebut dinilai turut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap aset-aset keuangan Indonesia.

Di sisi eksternal, penguatan dolar AS juga masih didorong oleh tingginya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.

BI Terus Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia telah berulang kali melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi tersebut bertujuan meredam volatilitas yang berlebihan, namun arah pergerakan rupiah tetap dipengaruhi oleh sentimen global, arus modal, dan kondisi fundamental ekonomi.

Dolar atau Emas?

Sejumlah analis menilai penguatan dolar AS membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi sebagian investor dalam jangka pendek. Namun, tidak ada kesepakatan tunggal bahwa dolar selalu lebih baik dibanding emas. Pilihan investasi tetap bergantung pada tujuan, jangka waktu, dan toleransi risiko masing-masing investor. Emas umumnya dipandang sebagai aset lindung nilai, sedangkan dolar dapat memperoleh keuntungan ketika mata uang tersebut menguat.

Prospek Rupiah

Pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih dipengaruhi oleh:

Kebijakan moneter Bank Indonesia dan bank sentral utama dunia.

Perkembangan kondisi fiskal Indonesia.

Arus masuk dan keluar modal asing.

Sentimen ekonomi global.

Selama faktor-faktor tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan, volatilitas nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan tetap tinggi.

Hda/Dad