Kondisi Keuangan Garuda Indonesia 5 Tahun Terakhir: Dari Rugi Jumbo hingga Kembali Tertekan
Lintas24jam.com – Kondisi keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam lima tahun terakhir menunjukkan dinamika yang sangat tajam. Dari Rugi Jumbo hingga kembali tertekan. Maskapai pelat merah ini sempat mencatatkan kerugian fantastis, bangkit dengan laba besar pascarestrukturisasi, namun kembali terjerat tekanan finansial hingga 2025.
Data kinerja keuangan menunjukkan bahwa Garuda Indonesia masih berada dalam fase pemulihan yang belum stabil, meskipun telah menerima berbagai bentuk dukungan pemerintah dan menjalani restrukturisasi utang besar-besaran.
Kinerja Keuangan 2021–2025: Fluktuasi Ekstrem
Jika ditarik dalam rentang lima tahun terakhir, kondisi keuangan Garuda Indonesia dapat dirangkum sebagai berikut:
2021: rugi bersih Rp62 triliun
2022: laba bersih Rp58 triliun
2023: laba bersih Rp3,8 triliun
2024: rugi bersih Rp1,5 triliun
2025: rugi bersih Rp5,4 triliun
Angka-angka tersebut mencerminkan volatilitas tinggi yang dialami Garuda Indonesia, terutama akibat kombinasi faktor internal dan eksternal, seperti dampak pandemi, restrukturisasi utang, hingga tekanan biaya operasional.
Pada 2021, Garuda mencatat kerugian terbesar dalam sejarah perusahaan. Hal ini tidak terlepas dari dampak pandemi COVID-19 yang menghantam industri penerbangan global, menurunkan jumlah penumpang secara drastis serta mengganggu arus kas perusahaan.
2022: Titik Balik Lewat Restrukturisasi
Tahun 2022 menjadi momentum penting bagi Garuda Indonesia. Perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih Rp58 triliun, yang sebagian besar didorong oleh hasil restrukturisasi utang besar-besaran.
Restrukturisasi tersebut memangkas total kewajiban Garuda dari sekitar US$8,3 miliar menjadi jauh lebih rendah, sekaligus menyelamatkan perusahaan dari ancaman kebangkrutan
Namun perlu dicatat, laba jumbo tersebut bukan berasal dari kinerja operasional murni, melainkan efek akuntansi dari restrukturisasi utang (debt restructuring gain).
2023: Mulai Stabil, Tapi Masih Dapat Suntikan Modal
Memasuki 2023, Garuda Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dengan mencatat laba bersih Rp3,8 triliun. Ini menjadi sinyal bahwa operasional perusahaan mulai membaik pascarestrukturisasi.
Peningkatan trafik penumpang dan pemulihan industri penerbangan global menjadi faktor pendukung utama. Namun, fondasi keuangan Garuda masih rapuh karena beban utang tetap tinggi dan struktur biaya belum sepenuhnya efisien.
2024–2025: Kembali Merugi
Sayangnya, tren positif tersebut tidak bertahan lama. Pada 2024, Garuda kembali mencatat rugi bersih Rp1,5 triliun, yang kemudian membengkak menjadi Rp5,4 triliun pada 2025.
Berdasarkan laporan keuangan, tekanan utama berasal dari:
- Beban keuangan (utang dan bunga)
- Fluktuasi nilai tukar dolar AS
- Biaya operasional yang tinggi
- Penurunan pendapatan di beberapa periode
- Beberapa Pengamat menambahkan adanya oknum korupsi
Pada 2025, bahkan di semester awal saja Garuda sudah mencatat kerugian miliaran rupiah akibat tingginya beban keuangan yang mencapai ratusan juta dolar AS. Selain itu, penurunan pendapatan juga memperparah kondisi keuangan perusahaan
Beban Utang dan Kurs Jadi Masalah Utama
Salah satu akar masalah Garuda Indonesia adalah struktur utang yang didominasi mata uang dolar AS. Ketika rupiah melemah, beban pembayaran utang otomatis meningkat.
Meski sempat direstrukturisasi menjadi sekitar Rp80 triliun, tekanan utang tetap besar. Bahkan, kerugian kembali membengkak karena:
- Kewajiban pembayaran bunga tetap tinggi
- Ketergantungan pada pembiayaan eksternal
- Fluktuasi kurs yang tidak menguntungkan
Hal ini membuat Garuda sulit mencapai profitabilitas berkelanjutan, meskipun secara operasional mengalami perbaikan.
Suntikan Modal Pemerintah Tembus Rp100 Triliun
Untuk menjaga keberlangsungan perusahaan, pemerintah telah menggelontorkan dana dalam berbagai bentuk, baik Penyertaan Modal Negara (PMN), restrukturisasi, maupun dukungan lainnya.
Total dukungan tersebut diperkirakan telah melampaui Rp100 triliun dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, pada 2025 Garuda juga kembali mendapatkan tambahan suntikan modal 28,5T melalui skema investasi Danantara, yang salah satunya digunakan untuk perawatan armada dan penguatan anak usaha
Langkah ini menunjukkan bahwa Garuda masih sangat bergantung pada dukungan negara untuk bertahan.
Total Kerugian Masih Mencapai Rp293,5 Triliun
Meskipun sempat “dibersihkan” melalui restrukturisasi, akumulasi kerugian Garuda Indonesia hingga saat ini masih mencapai sekitar Rp293,5 triliun. Angka ini mencerminkan tekanan finansial jangka panjang yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Bahkan, laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa ekuitas perusahaan masih negatif, yang berarti kewajiban lebih besar dibandingkan aset. Kondisi ini menjadi indikator bahwa Garuda masih berada dalam fase financial distress.
Tantangan Besar di Masa Depan
Ke depan, Garuda Indonesia menghadapi sejumlah tantangan besar, antara lain:
1. Profitabilitas Operasional
Garuda harus mampu menghasilkan laba dari bisnis inti, bukan hanya dari restrukturisasi atau dukungan pemerintah.
2. Efisiensi Biaya
Struktur biaya, terutama terkait armada dan maintenance, masih menjadi beban besar.
3. Stabilitas Utang
Manajemen utang harus lebih disiplin, termasuk mengurangi eksposur terhadap dolar AS.
4. Persaingan Industri
Persaingan dengan maskapai low-cost carrier semakin ketat, terutama di pasar domestik.
Mampukah Garuda Indonesia Menjadi Maskapai Yang Menguntungkan
Dalam lima tahun terakhir, kondisi keuangan Garuda Indonesia menunjukkan perjalanan yang penuh gejolak. Dari kerugian besar di 2021, laba semu akibat restrukturisasi di 2022, hingga kembali merugi pada 2024–2025.
Meskipun telah menerima suntikan dana lebih dari Rp100 triliun dan menjalani restrukturisasi utang, Garuda masih menghadapi tantangan berat untuk mencapai kesehatan finansial yang berkelanjutan.
Dengan total kerugian mencapai Rp293,5 triliun dan tekanan utang yang masih tinggi, masa depan Garuda Indonesia akan sangat bergantung pada keberhasilan transformasi bisnis, efisiensi operasional, serta kemampuan mengelola utang secara lebih sehat.
Jika tidak, maskapai kebanggaan nasional ini berisiko terus berada dalam turbulensi keuangan dalam jangka panjang.
Hda/Dad
Sumber :



