Dolar AS Tembus Rp18.312 pada 29 Mei 2026
Rupiah Terus Melemah Saat Long Weekend, BI Sulit Lakukan Intervensi Pasar
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan tajam terhadap rupiah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Di pasar spot nasional, dolar AS dilaporkan tembus level Rp18.312 per USD, memperpanjang tekanan terhadap mata uang Garuda di tengah situasi global yang semakin tidak menentu.
Kondisi ini juga terlihat langsung di lapangan. Di sejumlah tempat penukaran uang atau money changer di kawasan Jalan Sudirman, Purwokerto, antrean masyarakat terlihat memanjang sejak pagi hari. Menariknya, antrean didominasi oleh ibu-ibu atau emak-emak yang berusaha membeli dolar AS sebagai langkah antisipasi terhadap pelemahan rupiah yang belum menunjukkan tanda mereda.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional dan global.
Money Changer Diserbu Warga, Harga Dolar Jual Sudah di Atas Rp18.300
Beberapa money changer di wilayah Purwokerto dilaporkan telah menjual dolar AS di atas level Rp18.300. Permintaan masyarakat terhadap mata uang asing meningkat drastis selama periode long weekend, ketika aktivitas pasar keuangan domestik relatif terbatas.
Sejumlah warga mengaku khawatir nilai rupiah akan terus melemah dalam beberapa hari ke depan. Kekhawatiran tersebut dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang terus menekan pasar keuangan Indonesia.
Antrean panjang di money changer menjadi fenomena yang jarang terjadi dalam kondisi normal. Namun kali ini, lonjakan permintaan dolar AS menunjukkan tingkat kecemasan publik terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia Kesulitan Intervensi Saat Long Weekend
Salah satu faktor utama yang disebut mempercepat pelemahan rupiah adalah terbatasnya ruang intervensi Bank Indonesia (BI) selama periode libur panjang atau long weekend.
Ketika pasar domestik tidak aktif penuh, kemampuan BI untuk melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar valas menjadi lebih terbatas. Di sisi lain, tekanan dari pasar global tetap berlangsung tanpa henti, terutama di pasar offshore dan perdagangan internasional.
Akibatnya, rupiah terlihat “kedodoran” menghadapi gelombang penguatan dolar AS yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Pelaku pasar menilai kondisi ini membuat pergerakan rupiah menjadi lebih rentan terhadap sentimen global, terutama ketika volume transaksi menipis selama masa liburan.
Geopolitik Timur Tengah Kembali Memanas
Tekanan terhadap rupiah juga diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik dan eskalasi baru di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Harga minyak mentah dunia kembali bergerak naik akibat kekhawatiran distribusi energi terganggu. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi negara berkembang seperti Indonesia yang sangat sensitif terhadap lonjakan harga energi dan arus modal asing.
Investor global cenderung kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Dampaknya, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan besar.
Inflasi Global dan Ketidakpastian Ekonomi Dunia Menguat
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi oleh meningkatnya inflasi global serta ketidakpastian ekonomi dunia. Bank sentral di berbagai negara masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi.
Situasi tersebut membuat dolar AS tetap perkasa terhadap mayoritas mata uang dunia. Arus dana asing pun cenderung keluar dari pasar emerging market menuju aset yang dianggap lebih aman.
Ketidakpastian global yang terus meningkat membuat pelaku pasar semakin berhati-hati. Kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia, perang geopolitik, hingga tekanan harga energi menjadi kombinasi yang menekan nilai tukar rupiah secara bersamaan.
Rupiah Dalam Tekanan Berat
Level Rp18.312 per dolar AS menjadi salah satu titik tekanan berat bagi rupiah dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan yang terjadi bukan hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kenaikan harga barang impor, potensi inflasi pangan dan energi, hingga biaya produksi industri menjadi ancaman nyata apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan.
Pelaku usaha kini menanti langkah lanjutan dari Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah badai global yang semakin kuat.
Hda/Dad



