Harga Minyak Dunia Fluktuatif: WTI Naik ke USD 107, Brent Turun ke USD 116 Dipicu Ketegangan Global
Lintas24jam.com – Jakarta, 2 April 2026 – Harga minyak dunia kembali bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2026). Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat menguat ke level USD 107 per barel, sementara Brent Crude justru mengalami penurunan ke kisaran USD 116 per barel.
Pergerakan yang berlawanan ini mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar energi global, terutama akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda.
Ketegangan Global Jadi Pemicu Utama
Fluktuasi harga minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh konflik geopolitik yang melibatkan Iran dan tekanan dari Amerika Serikat. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam tindakan lebih keras terhadap Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa pasar minyak bereaksi sensitif terhadap setiap perkembangan konflik, terutama terkait potensi gangguan distribusi minyak dunia.
Trump bahkan menegaskan bahwa aksi militer terhadap Iran bisa berlanjut dalam beberapa pekan ke depan tanpa kepastian kapan konflik akan berakhir, sehingga meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Salah satu faktor paling krusial yang memengaruhi harga minyak adalah ancaman penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak tersibuk di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.
Ketegangan yang terus meningkat membuat jalur ini berisiko terganggu, bahkan sempat mengalami pembatasan aktivitas akibat konflik yang berlangsung.
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup atau terganggu dalam waktu lama, maka pasokan minyak global akan tertekan signifikan, yang berpotensi mendorong harga minyak melonjak lebih tinggi.
Iran Tegaskan Tetap Bertahan
Dari pihak Iran, pemerintah menegaskan tidak akan mundur dari konflik jika syarat-syarat perdamaian tidak dipenuhi. Sikap tegas ini semakin memperpanjang ketidakpastian geopolitik dan meningkatkan risiko konflik berkepanjangan.
Pasar menilai bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat masih sangat kecil. Hal ini membuat investor cenderung bersikap hati-hati dan terus memantau perkembangan situasi.
Di sisi lain, Iran juga disebut masih mempertimbangkan langkah-langkah strategis terkait pengendalian jalur distribusi energi, termasuk kemungkinan mempertahankan pembatasan di Selat Hormuz.
Volatilitas Tinggi di Pasar Energi
Harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Sebelumnya, harga sempat turun tajam setelah muncul sinyal de-eskalasi dari Amerika Serikat. Namun, pernyataan terbaru Trump yang kembali memperkeras sikap terhadap Iran langsung membalikkan arah pasar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi saat ini sangat bergantung pada sentimen geopolitik, bukan semata faktor fundamental seperti permintaan dan pasokan.
Selain itu, kekhawatiran terhadap inflasi global juga turut memperparah kondisi. Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara, yang pada akhirnya memengaruhi kebijakan moneter global.
Dampak ke Ekonomi Global
Kenaikan dan fluktuasi harga minyak memiliki dampak luas terhadap perekonomian global. Negara-negara importir minyak akan menghadapi tekanan biaya energi yang lebih tinggi, sementara negara produsen bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga.
Namun, ketidakpastian yang tinggi juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global. Banyak pelaku usaha menahan ekspansi karena biaya energi yang tidak stabil.
Bahkan, fenomena “war-driven inflation” atau inflasi akibat konflik mulai menjadi perhatian, di mana kenaikan harga energi dipicu oleh gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.
Prospek Harga Minyak ke Depan
Analis memproyeksikan harga minyak dunia masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik terang, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi.
Jika eskalasi konflik meningkat atau Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda de-eskalasi, harga bisa kembali terkoreksi.
Investor dan pelaku pasar kini terus memantau perkembangan geopolitik sebagai faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Harga minyak dunia pada Kamis, 2 April 2026, menunjukkan pergerakan yang fluktuatif, dengan WTI naik ke USD 107 per barel dan Brent turun ke USD 116 per barel. Ketidakpastian global, ancaman penutupan Selat Hormuz, serta eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga.
Selama ketegangan geopolitik masih berlangsung, pasar energi global diperkirakan akan tetap bergejolak. Investor pun diimbau untuk tetap waspada terhadap dinamika global yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Hda/Dad
Baca Juga :



