Ekspansi Krakatau Steel Dinilai Tak Tepat di Tengah Tekanan Fiskal
Pendanaan Besar di Tengah Keterbatasan Fiskal
Lintas24jam.com – Keputusan pemberian pendanaan sebesar Rp5 triliun kepada Krakatau Steel dari Danantara menjadi sorotan di tengah kondisi fiskal pemerintah yang terbatas. Dana tersebut rencananya digunakan untuk ekspansi, khususnya pembelian bahan baku baja impor.
Namun, sejumlah pengamat menilai langkah ini kurang tepat. Ketergantungan pada impor di saat kondisi global tidak stabil justru dinilai berpotensi meningkatkan risiko, terutama ketika konflik geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung dan memicu ketidakpastian rantai pasok serta harga komoditas.
Kinerja Laba, Tapi Tetap Minta Tambahan Dana
Ironisnya, pada tahun 2025 Krakatau Steel berhasil mencatatkan laba sebesar Rp5,6 triliun berdasarkan laporan keuangannya. Capaian ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat fundamental perusahaan tanpa ketergantungan tambahan pada pendanaan eksternal.
Namun, keputusan untuk tetap mengajukan pendanaan baru justru memunculkan pertanyaan terkait strategi bisnis dan efisiensi operasional perusahaan pelat merah tersebut. Produsen baja terbesar di Indonesia tetapi harus impor untuk mencukupi kebutuhan bahan baku usaha.
Beban Utang dan Isu Tata Kelola
Selain itu, beban utang Krakatau Steel masih tergolong besar, yakni mencapai Rp19,5 triliun. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa ekspansi berbasis utang dan pendanaan tambahan berisiko memperburuk struktur keuangan perusahaan.
Masalah tata kelola dan transparansi juga masih menjadi sorotan utama. Sejumlah pihak menilai reformasi internal belum berjalan optimal, sehingga potensi inefisiensi dan risiko pengelolaan dana tetap tinggi.
Risiko Downgrade dan Sentimen Pasar
Kondisi ini sejalan dengan prediksi banyak pengamat bahwa sejumlah emiten di Indonesia berpotensi mengalami penurunan peringkat (downgrade) oleh lembaga pemeringkat global seperti Fitch Ratings, Moody’s, dan MSCI jika tidak segera melakukan pembenahan fundamental.
Bahkan sebelumnya, MSCI sempat melakukan pembekuan sementara terhadap sejumlah emiten penyokong IHSG, yang memicu sentimen negatif di pasar saham domestik.
Kemudian minggu lalu giliran Fitch yang menurunkan outlook 4 bank terbesar di indonesia yaitu BRI, BNI, Mandiri dan BCA menjadi negatif. Hal ini karena ketidak pastian global dan ketahanan terhadap krisis/resesi jadi faktor utama penilaian lembaga pemeringkat tersebut. Meskipun rating kredit masih dipertahankan di BBB.
Perlu Evaluasi Strategis
Dalam situasi global yang penuh tekanan dan fiskal yang terbatas, kebijakan pendanaan terhadap BUMN seperti Krakatau Steel seharusnya dilakukan secara lebih selektif dan berbasis pada perbaikan fundamental, bukan sekadar ekspansi jangka pendek.
Tanpa pembenahan tata kelola, efisiensi operasional, dan pengurangan utang, langkah ekspansi berisiko justru dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan dan menambah beban bagi ekosistem ekonomi nasional.
Hda/Dad
Baca Juga :



