Sorotan Laporan Keuangan BUMN: Rosan Tegaskan Stop “Financial Engineering”, Integritas Jadi Harga Mati
Lintas24jam.com – Isu transparansi dan akurasi laporan keuangan kembali menjadi perhatian dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Praktik pelaporan yang dinilai “tidak mencerminkan kondisi riil” memicu kekhawatiran publik, terutama ketika kinerja yang terlihat positif tidak sejalan dengan arus kas dan kebutuhan pendanaan dari negara.
Rosan: Hentikan Financial Engineering yang Menyesatkan
Rosan Roeslani menegaskan pentingnya kejujuran dalam pelaporan keuangan BUMN. Dalam pernyataannya yang dikutip Rabu (6/5/2026), ia mengingatkan agar praktik manipulatif dalam laporan keuangan dihentikan.
“Janganlah lagi kita melakukan financial engineering yang tidak benar. Buat apa kita kelihatan laba tinggi, tapi flow-nya kosong,” tegas Rosan.
Pernyataan ini menyoroti fenomena di mana perusahaan terlihat mencetak laba besar di atas kertas, namun tidak diikuti dengan arus kas (cash flow) yang sehat—indikasi adanya masalah dalam kualitas laporan keuangan.
Integritas Jadi Fondasi Utama
Selain soal teknis keuangan, Rosan juga menekankan pentingnya integritas para pemimpin BUMN. Ia menyebut bahwa pelanggaran integritas tidak dapat ditoleransi dalam bentuk apa pun.
“I have zero tolerance kepada masalah integritas yang dilanggar,” ujarnya.
Sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan menilai bahwa kepercayaan investor sangat bergantung pada kredibilitas laporan dan kepemimpinan di dalam perusahaan negara.
Kritik Pengamat: Masalah Lama yang Belum Tuntas
Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa praktik laporan “abal-abal” di BUMN bukanlah isu baru. Bahkan, ada pandangan bahwa pola ini sudah berlangsung lama dan berakar sejak era Soeharto.
Menurut mereka, terdapat kecenderungan:
- Menampilkan laba tinggi untuk menjaga citra
- Mengandalkan rekayasa akuntansi tertentu
- Menunda pengakuan beban atau kerugian
Namun di sisi lain, fakta bahwa banyak BUMN masih menerima suntikan dana dari pemerintah setiap tahun menjadi kontradiksi yang sulit diabaikan.
Paradoks Laba dan Suntikan Modal Negara
Fenomena yang sering disorot adalah adanya klaim keuntungan besar oleh BUMN, tetapi tetap bergantung pada Penyertaan Modal Negara (PMN) secara rutin.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar:
- Jika benar untung, mengapa masih butuh dana negara?
- Apakah laba tersebut benar-benar berkualitas?
- Seberapa transparan laporan keuangan yang disajikan?
Kondisi ini dinilai ironis oleh banyak pihak karena membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahun.
Pentingnya Reformasi Tata Kelola
Para ahli menilai bahwa solusi tidak cukup hanya dengan pernyataan tegas, tetapi membutuhkan reformasi menyeluruh, termasuk:
- Penguatan audit independen
- Transparansi laporan keuangan berbasis standar global
- Pembatasan praktik rangkap jabatan
- Penegakan hukum atas pelanggaran integritas
Dengan langkah tersebut, diharapkan kepercayaan publik dan investor terhadap BUMN dapat pulih.
Dampak terhadap Iklim Investasi
Isu integritas dan transparansi sangat memengaruhi persepsi investor, baik domestik maupun asing. Jika laporan keuangan dianggap tidak kredibel, maka risiko investasi akan meningkat.
Sebaliknya, perbaikan tata kelola akan:
- Meningkatkan kepercayaan pasar
- Menarik investasi baru
- Memperkuat daya saing BUMN
Kesimpulan
Pernyataan tegas Rosan Roeslani menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah mulai serius membenahi persoalan mendasar di tubuh BUMN, khususnya terkait integritas dan transparansi laporan keuangan.
Namun, kritik dari pengamat menunjukkan bahwa masalah ini sudah lama mengakar dan membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar retorika. Tanpa reformasi menyeluruh, paradoks antara “laba di atas kertas” dan ketergantungan pada dana negara akan terus berulang.
Hda/Dad
Baca Juga :



