Dolar Tembus Rp17.824, Menkeu Purbaya Sebut Pelemahan Rupiah Tak Masuk Akal Meski BI Intervensi Besar-besaran
Lintas24jam.com – JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali menekan rupiah hingga menyentuh level Rp17.824 per dolar AS pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Pelemahan tajam mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran pasar, terlebih di tengah intervensi besar-besaran yang telah dilakukan Bank Indonesia (BI) baik di pasar obligasi negara maupun pasar valas luar negeri.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran dengan tekanan terhadap rupiah. Ia menilai pelemahan kurs saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih solid.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya saat ditemui usai pelaksanaan salat Iduladha di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Pernyataan tersebut muncul ketika tekanan terhadap rupiah justru terus meningkat meskipun otoritas moneter telah menggelontorkan intervensi besar untuk menahan laju penguatan dolar AS.
BI Intervensi Total, Tapi Dolar Terus Menguat
Bank Indonesia dilaporkan melakukan intervensi agresif di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar valuta asing domestik maupun offshore. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas kurs rupiah dan menenangkan sentimen investor.
Namun hingga penutupan perdagangan, tekanan belum mereda. Dolar justru terus menguat, mencerminkan kuatnya arus keluar modal asing dan tingginya permintaan aset safe haven global.
Pelaku pasar menilai intervensi BI sejauh ini belum cukup membalikkan sentimen negatif yang berkembang akibat kombinasi faktor eksternal dan kekhawatiran domestik.
Kenapa Rupiah Terus Melemah?
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah dipicu oleh beberapa faktor utama:
1. Dolar AS Sangat Dominan Secara Global
Penguatan dolar terjadi hampir di seluruh mata uang emerging market seiring ekspektasi suku bunga tinggi berkepanjangan di Amerika Serikat.
2. Kekhawatiran Fiskal Indonesia
Investor mulai mencermati tekanan terhadap APBN akibat tingginya kebutuhan belanja pemerintah serta berbagai program strategis yang membutuhkan pembiayaan jumbo.
3. Harga Minyak Dunia Tinggi
Kenaikan harga minyak mentah global meningkatkan tekanan impor energi Indonesia, memperbesar kebutuhan dolar untuk pembayaran impor.
4. Arus Modal Asing Keluar
Pasar obligasi domestik menghadapi tekanan jual investor asing yang memilih instrumen dolar berimbal hasil lebih menarik.
Pernyataan Menkeu Jadi Sorotan Pasar
Komentar Menkeu Purbaya bahwa pelemahan rupiah “tidak masuk akal” menuai perhatian pelaku pasar. Sebagian menilai pernyataan itu menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap fundamental ekonomi domestik.
Namun sebagian lain menilai pasar tidak hanya melihat indikator pertumbuhan ekonomi, melainkan juga kredibilitas fiskal, stabilitas kebijakan, arah utang pemerintah, hingga persepsi risiko jangka panjang.
“Pasar bergerak berdasarkan ekspektasi ke depan, bukan hanya data ekonomi saat ini,” ujar seorang analis pasar uang di Jakarta.
Tantangan Berat Menahan Rupiah
Dengan dolar yang terus menanjak ke level Rp17.824, tekanan terhadap Bank Indonesia diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Jika tren ini berlanjut, BI kemungkinan harus memperbesar intervensi atau mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih agresif demi menjaga stabilitas rupiah.
Sementara itu, pasar menunggu langkah konkret pemerintah untuk memperkuat kepercayaan investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia memang cukup kuat untuk menghadapi badai eksternal yang terus menghantam pasar keuangan global.
Untuk saat ini, satu hal yang pasti: meski pemerintah menyebut fundamental ekonomi tetap bagus, pasar belum sepenuhnya percaya.
Hda/Dad



