Dolar AS Tembus Rp17.836 Siang Ini

Dolar AS Tembus Rp17.836 Siang Ini, Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Fiskal dan Kebijakan BI

Lintas24jam.com – Jakarta, 11 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Senin siang (11/5/2026). Dolar Amerika Serikat (AS) tercatat menembus Rp17.836 per USD, menandai pelemahan lanjutan mata uang Garuda di tengah kombinasi sentimen negatif dari sisi fiskal domestik, kebijakan baru Bank Indonesia (BI), serta memanasnya situasi geopolitik global.

Pelemahan rupiah kali ini dinilai cukup tajam karena dipicu berbagai faktor yang datang secara bersamaan. Pelaku pasar menilai kondisi fiskal Indonesia sedang menghadapi tantangan besar, terutama terkait tekanan belanja negara dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan defisit anggaran.

Sentimen Fiskal Menekan Kepercayaan Pasar

Sejumlah analis menilai tekanan utama berasal dari meningkatnya persepsi risiko fiskal nasional. Investor global mulai menyoroti kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar di tengah perlambatan penerimaan negara.

Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa ruang fiskal Indonesia akan semakin terbatas jika tekanan eksternal terus berlanjut.

“Pasar sedang menilai ulang prospek fiskal Indonesia. Ketika persepsi risiko meningkat, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS,” ujar salah satu analis pasar uang di Jakarta.

Kebijakan Baru BI Belum Mampu Menahan Laju Dolar

Bank Indonesia sebelumnya telah mengeluarkan sejumlah langkah stabilisasi untuk menjaga likuiditas rupiah dan mengendalikan volatilitas pasar valas. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup agresif untuk membendung derasnya permintaan dolar.

Pelaku pasar menilai respons kebijakan moneter BI masih membutuhkan penguatan, terutama untuk memberikan sinyal tegas bahwa stabilitas kurs tetap menjadi prioritas utama.

Faktor Geopolitik Global Memperparah Tekanan Rupiah

Selain faktor domestik, ketidakpastian geopolitik global juga memperburuk tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Meningkatnya tensi perdagangan antarnegara besar, potensi konflik kawasan, serta ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat investor global memilih memindahkan dana ke aset berbasis dolar.

Kondisi ini menyebabkan arus modal keluar dari pasar negara berkembang meningkat tajam dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Investor Beralih ke Dolar, Rupiah Dinilai Jauh dari Nilai Ekonomi

Sebagian besar investor melihat rupiah saat ini bergerak jauh dari nilai keekonomian idealnya. Ketidakpastian arah kebijakan dan tekanan eksternal membuat dolar menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai.

Permintaan dolar yang melonjak otomatis memperbesar tekanan jual terhadap rupiah di pasar spot maupun domestik.

Analis memperkirakan jika sentimen negatif belum mereda dalam waktu dekat, maka dolar berpotensi menguji level psikologis berikutnya di atas Rp17.900 per USD.

Prospek Rupiah ke Depan

Meski tekanan masih kuat, sejumlah ekonom menilai rupiah masih memiliki peluang untuk pulih apabila pemerintah dan Bank Indonesia mampu menghadirkan sinyal kebijakan yang kuat serta menjaga stabilitas fiskal secara konsisten.

Pasar kini menunggu langkah lanjutan BI dan pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan investor, terutama melalui intervensi pasar valas, penguatan fundamental ekonomi, dan kepastian arah kebijakan fiskal jangka menengah.

Hda/Dad

Baca Juga :

Maximo Quiles Juara di Moto3, Veda Ega Finis Posisi Keempat