Tekanan Berat untuk Ekonomi Indonesia di Era Prabowo

IHSG Ambruk Sentuh Level 5.000, Dolar Tembus Rp17.799 dan Harga Minyak USD120/Barel, Tekanan Berat untuk Ekonomi Indonesia di Era Prabowo

Lintas24jam.com – Jakarta, 22 Mei 2026 – Perekonomian Indonesia kembali mendapat pukulan telak bertubi-tubi menjelang akhir pekan. Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), tekanan besar menghantam pasar keuangan nasional setelah IHSG sempat menyentuh level 5.000-an, nilai tukar dolar AS menembus Rp17.799, sementara harga minyak mentah dunia di pasar spot melonjak hingga USD120 per barel.

Situasi ini menjadi ujian berat bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang hingga kini masih mencari formula tepat untuk meredam gejolak pasar, menstabilkan rupiah, sekaligus mengembalikan kepercayaan investor.

IHSG Terjun Bebas, Sentuh Level Psikologis 5.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual besar-besaran sejak pembukaan perdagangan. Aksi panic selling investor domestik dan asing menyeret indeks hingga sempat menyentuh area 5.000-an, level yang terakhir kali menjadi perhatian serius pelaku pasar dalam periode krisis sebelumnya.

Pelemahan tajam ini dipicu kombinasi sentimen negatif eksternal dan domestik, mulai dari kekhawatiran perlambatan ekonomi global, lonjakan harga energi, hingga keraguan investor terhadap kekuatan fundamental fiskal Indonesia.

Sektor perbankan, properti, manufaktur, hingga konsumer menjadi yang paling tertekan. Banyak emiten papan atas terpaksa ditutup di zona merah dengan koreksi signifikan.

BI Sudah Intervensi Rp2 Triliun Lebih, Namun Pasar Tetap Tertekan

Bank Indonesia dilaporkan telah melakukan intervensi agresif dengan menggelontorkan dana lebih dari Rp2 triliun ke pasar modal demi menahan kejatuhan lebih dalam.

Namun langkah tersebut belum cukup untuk membalikkan arah pasar. Tekanan jual yang masif membuat intervensi hanya mampu memperlambat pelemahan, bukan membalikkan sentimen negatif.

Pelaku pasar menilai intervensi jangka pendek tidak akan efektif jika pemerintah belum memberikan sinyal kebijakan ekonomi yang kuat, terukur, dan konsisten.

Dolar AS Tembus Rp17.799, Rupiah Semakin Terjepit

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami depresiasi tajam hingga menyentuh Rp17.799 per USD, mempertegas tekanan besar terhadap mata uang Garuda.

Penguatan dolar global terjadi di tengah kebijakan moneter ketat Amerika Serikat serta meningkatnya arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi domestik, kekhawatiran terhadap daya tahan fiskal nasional dan lemahnya kepercayaan investor turut mempercepat tekanan terhadap rupiah.

Kondisi ini berisiko mendorong inflasi impor, menaikkan biaya produksi industri, dan mempersempit ruang gerak kebijakan pemerintah.

Harga Minyak Dunia Tembus USD120 per Barel

Di saat bersamaan, harga minyak mentah dunia di perdagangan spot melonjak hingga USD120 per barel, didorong ketegangan geopolitik global, gangguan pasokan energi, dan tingginya permintaan musiman.

Kenaikan harga minyak menjadi ancaman serius bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Jika tren ini bertahan, beban subsidi energi berpotensi melonjak drastis dan dapat memperbesar tekanan terhadap APBN 2026.

Efek lanjutannya bisa terasa langsung pada kenaikan harga BBM, tarif logistik, biaya transportasi, dan tekanan inflasi nasional.

Pemerintah Masih Cari Strategi yang Tepat

Hingga saat ini pemerintah disebut masih menyusun strategi komprehensif untuk menjinakkan dolar dan mengerek kembali IHSG.

Namun pasar tampaknya menunggu langkah konkret, bukan sekadar sinyal verbal.

Ketidakpastian arah kebijakan membuat investor cenderung mengambil posisi defensif.

Sinyal Bahaya PHK dari Menteri Gumiwang

Sentimen negatif semakin bertambah setelah Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita baru-baru ini mengingatkan potensi badai PHK pada kuartal kedua 2026.

Peringatan ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan ekonomi tidak hanya terjadi di pasar keuangan, tetapi juga mulai merembet ke sektor riil.

Jika gelombang PHK benar-benar meluas, konsumsi rumah tangga bisa melemah drastis, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Ekonomi Indonesia Hadapi Ujian Besar

Pasar kini menanti respons cepat dan tegas dari pemerintah Prabowo untuk memulihkan kepercayaan.

Hda/Dad