BI: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Rupiah Dinilai Undervalue, BI: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Tekanan Global

Selasa, 5 Mei 2026

Lintas24jam.com – Gubernur Perry Warjiyo menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalue atau lebih rendah dari nilai fundamentalnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Istana Negara pada Selasa (4/5/2026).

Menurut Perry, pelemahan rupiah bukan mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang lemah, melainkan lebih dipengaruhi oleh tekanan eksternal dan faktor musiman.

Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Solid

Bank Indonesia menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kuat. Salah satu indikator utamanya adalah pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61%, menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan tertinggi di dunia.

Kinerja ini ditopang oleh konsumsi domestik yang stabil, investasi yang terus tumbuh, serta kinerja ekspor yang relatif terjaga di tengah dinamika global.

“Nilai tukar rupiah saat ini undervalue jika dibandingkan dengan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia,” ujar Perry.

Tekanan Global Jadi Faktor Utama

Meski fundamental kuat, rupiah tetap mengalami tekanan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor global, di antaranya:

Kenaikan harga minyak dunia yang mendorong kebutuhan impor energi meningkat

Kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve yang membuat arus modal global beralih ke aset dolar

Penguatan dolar AS secara global yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah

Kondisi ini menyebabkan permintaan terhadap dolar meningkat secara signifikan di pasar global.

Faktor Musiman Turut Berperan

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor musiman dalam negeri. Beberapa di antaranya:

Pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam denominasi dolar AS

Peningkatan permintaan dolar untuk kebutuhan ibadah haji, yang secara rutin terjadi menjelang musim keberangkatan

Lonjakan permintaan dolar ini memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

BI Terus Lakukan Intervensi

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk:

Intervensi di pasar valuta asing

Penguatan kebijakan moneter

Koordinasi erat dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi

Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjaga kepercayaan pasar serta menstabilkan nilai tukar rupiah ke depan.

Prospek Rupiah ke Depan

Dengan fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang responsif, Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah akan kembali mencerminkan nilai wajarnya seiring meredanya tekanan global.

Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global, arah kebijakan moneter negara maju, serta keberlanjutan kinerja ekonomi domestik.

Hda/Dad

Baca Juga :

IHSG Hari Ini 5 Mei 2026 Ditutup 7.057,19